Surat untuk Halimah dan Penculikan Hafiz

Dibuat pengguna StrokeVideo · 1 menit 48 detik · Bahasa Indonesia

  • Gaya: sharpie
  • Durasi: 1:48

Dibuat dengan StrokeVideo dari skrip teks biasa, tanpa editing.

Buat video seperti ini

Tautkan dan sematkan

Sematkan video ini di situs atau blog Anda. Kode ini menambahkan tautan kredit kecil.

Transkrip narasi

Satu minggu kemudian, Hasan memberanikan diri menemui Halimah untuk menyampaikan surat tersebut. Halimah terkejut dan terdiam lama setelah membaca isi surat itu. Ia kemudian meminta waktu kepada Hasan untuk memikirkannya dengan matang.

Malam harinya, Halimah menunaikan shalat istikharah, memohon petunjuk kepada Allah — apakah ia sebaiknya menerima atau menolak permintaan tersebut.

Setelah satu bulan lamanya melakukan shalat istikharah, akhirnya Halimah mendapatkan jawaban. Ia menerima permintaan terakhir Nafisa — untuk menikah dengan Hasan, mengurus Pondok Pesantren Hidayatullah, dan merawat Hafiz seperti anaknya sendiri.

Namun, di balik kabar baik itu, datang kabar buruk yang membuat hati Hasan hancur. Pernikahan mereka terpaksa ditunda, karena Hafiz diculik di rumah sakit. Peristiwa itu terjadi di ruang NICU, saat Hafiz sedang berada di dalam inkubator — yaitu kotak transparan yang berfungsi mengatur suhu tubuh bayi dengan berat badan rendah.

Hafiz lahir dengan berat hanya 2 kilogram, sehingga demi menyelamatkan nyawanya, ia harus dirawat di sana.

Setiap hari, setiap jam, bahkan setiap menit, Hasan selalu berada di ruang NICU untuk menjaga dan menemani Hafiz. Namun pada suatu hari, karena ada urusan mendesak, Hasan harus meninggalkan rumah sakit sebentar. Kebetulan saat itu, Yuda — teman mondoknya dulu ketika mereka mesantren — datang menjenguk Hafiz.

Hasan pun menitipkan Hafiz kepada Yuda untuk sementara waktu. Tak lama kemudian, Hasan menerima telepon dari seorang suster. Dengan suara panik, suster itu memberitahukan bahwa Hafiz tidak ada lagi di ruang NICU, begitu juga Yuda. Ternyata, Yuda telah membawa Hafiz pergi entah ke mana.

Hasan sangat terkejut dan tak mampu menahan air mata. Ia menangis tanpa henti, merasa putus asa karena kehilangan duaorang yang paling ia cintai — istrinya yang telah meninggal dan kini anak satu-satunya yang diculik.

Cara video ini dibuat

Pengguna StrokeVideo mengetik topik sendiri atau menempelkan skrip sendiri, memilih gaya spidol dan bingkai vertikal 9:16, lalu merendernya. Setiap papan diilustrasikan sesuai kata-kata mereka, dinarasikan dalam bahasa Indonesia, dan digambar gores demi gores dengan gambar yang disinkronkan ke penanda waktu setiap kata. Tidak ada pengeditan manual setelahnya.

Mengapa video ini ditampilkan

Kami menanyakan kepada setiap pengguna apakah video yang sudah selesai boleh ditampilkan di galeri ini. Pengguna ini menyetujuinya. Nama dan alamat email tidak pernah ditampilkan, dan video tetap menjadi milik mereka. Karya nyata dari pengguna nyata menunjukkan hasil sebenarnya dari alat ini, bukan hasil yang kami pilih untuk dipamerkan.

Video lainnya

Pertanyaan umum

Bisakah saya membuat video seperti ini?

Bisa. Ketik topik atau tempelkan skrip di halaman utama, pilih gaya, lalu render. Video berdurasi satu menit selesai dalam beberapa menit, dan video pertama setiap hari gratis.

Bisakah saya menggunakan klip ini?

Tidak. Klip ini milik pengguna yang membuatnya. Buat video Anda sendiri dari skrip Anda untuk dipublikasikan.