Permintaan Terakhir Nafisa untuk Hasan
Made by a StrokeVideo user · 1 min 35 sec · Indonesian
Made with StrokeVideo from a plain text script, no editing.
Make one like thisNarration transcript
Jakarta, 03 Maret 2003
Di kota Jakarta, hiduplah sepasang suami istri bernama Hasan dan Nafisa. Keduanya hidup bahagia dalam kesederhanaan. Mereka juga memiliki sebuah Pondok Pesantren Hidayatullah yang dibangun bersama-sama.
Setelah sekian lama menikah, akhirnya mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang diberi nama Hafiz Salman Siddiq. Namun, kebahagiaan itu berubah menjadi duka. Saat melahirkan Hafiz, Nafisa meninggal dunia karena mengalami pendarahan hebat.
Beberapa hari setelah pemakaman, Hasan menemukan sebuah surat di dalam lemari pakaian milik istrinya. Ternyata sebelum wafat, Nafisa telah menulis surat wasiat untuk suaminya.
Isi surat itu berbunyi : Assalamu’alaikum, Mas Hasan. Jika suatu saat aku meninggalkan Mas dan anak kita untuk selama-lamanya, aku mohon kepada Mas agar menjaga pondok pesantren yang belum lama kita bangun dengan baik. Aku juga mengizinkan Mas untuk menikah lagi. Aku ikhlas jika Mas menikah dengan Mbak Halimah, anaknya Pak Tirta. Ingat, Mas hanya boleh menikah dengan pilihanku, bukan pilihan Mas sendiri. Aku berharap semoga Mas Hasan dan Mbak Halimah bisa saling menjaga, saling mencintai, dan saling melengkapi satu sama lain. Karena Mas Hasan masih butuh pendamping seorang istri, begitu pun Hafiz membutuhkan sosok seorang ibu. Dan juga untuk Mbak Halimah, saat ini Mbak sudah tidak punya siapa-siapa lagi, termasuk orang tua. Aku harap Mbak bisa menerima permintaan Nafisa untuk menikah dengan Mas Hasan. Hanya itu yang ingin aku sampaikan kepada Mas dan juga Mbak. Aku berharap Mas dan Mbak bisa menerima permintaan terakhirku Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
How this video was made
A StrokeVideo user typed their own topic or pasted their own script, picked the sharpie style and a vertical 9:16 frame, and rendered it. Every board was illustrated for their words, narrated in Indonesian, and drawn stroke by stroke with the drawing synced to word-level timestamps. Nothing was edited by hand afterwards.
Why it is here
We ask every user whether their finished video may appear in this gallery. This one said yes. Names and email addresses are never shown, and the video stays theirs. Real work from real users shows what the tool actually produces, not what we picked to show off.